Skip navigation

Fenomena kaum miskin sempat menjadi buah bibir di kalangan kita ketika Ramadhan tiba. Tentunya hal tersebut terkait dengan dilaksanakannya pembagian zakat ke daerah-daerah yang mayoritas penghuninya warga miskin atau kaum dhuafa.

Selain “event” pembagian zakat, istilah “miskin” juga mewarnai “event” pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada hampir seluruh warga Indonesia di seluruh pelosok nusantara (abi Nasir aja dapet lho! hehehe…). Masalahnya, yang bukan warga miskin saja, suddenly, dapat jatah BLT (walau tidak sebanyak yang “mengaku” warga miskin). Jadi dimana masalahnya? Dengan diberikannya jatah BLT kepada orang yang sudah hidup berkecukupan, berarti sama saja mubazir donk uang BLT tersebut? (kan TMR. hehehe…)

Agaknya permasalahan ini salah satunya terdapat pada pendefinisian warga miskin di nusantara ini. Siapa saja yang di sebut warga miskin masih belum jelas. Apakah mereka yang tinggal di kolong jembatan? Apakah mereka yang hidup di “perkampungan” elit berlantai 2 atau 3? Atau kah mereka yang “mengaku” miskin? Anehnya, ketika fenomena “bagi-bagi uang” tersebut akan dilaksanakan (terutama zakat), hampir semua “mengakui bahwa mereka” miskin. Mengerikan bukan??? (hehehe…)

Seperti suatu ketika yang terjadi di Mojokerto, tepatnya di gang tempat nenek saya tinggal. Pagi itu dikabarkan akan ada pembagian zakat yang akan diberikan oleh bapak X di blok H1 (inisial disamarkan). Ketika itu yang datang malah sebagian besar membawa motor bebek. Apa orang-orang seperti itu pantas mendapatkan zakat? (itu miskin dimananya ya?)

Saya langsung teringat dengan sebuah buku yang saya beli pekan lalu di salah satu mall di Jakarta. Buku itu berjudul Kerebritis. Buku tersebut menceritakan tentang bagaimana kehidupan kaum “kere” di kota besar. Seperti kebanyakan orang pada umumnya, karena di kota besar mobilitas artis-artis dan orang terkenal sangat tinggi, maka mereka pun “ngikut” mode yang sedang in atau sedang digandrungi para remaja ketika itu. Tentunya para remaja tersebut “berkiblat” pada model yang tidak lain adalah artis atau selebritis yang mereka idolakan.

Dibuku itu tertulis definisi dari selebritis terlebih dahulu menurut Wikipedia (agar mengerti arti dari kerebritis):

Berasal dari bahasa Perancis kuno yaitu “celebrite”
Bahasa Inggrisnya “celebrity” yang artinya:

  • a person who has a high degree of recognition by the general population (seseorang yang memiliki derajat tinggi karena dikenal oleh masyarakat luas);
  • fame (terkenal)
  • the quality of being a famous person (kualitas yang di dapat karena menjadi orang terkenal)

Sedangkan Kerebritis menurut EYD (Ejaan Yang Dimaklumi) adalah:

  • Seseorang yang memiliki derajat rendah karena melarat, atau miskin alias kere di lingkungan masyarakat manapun
  • Tidak terkenal. Kalaupun terkenal karena banyak hutang yang tak mampu dibayarnya.
  • Kualitas hidup yang mau tak mau harus dipikul akibat menjadi orang melarat , atau miskin alias kere.

Definisi tambahan dari penulis:
Kerebritis adalah seorang kere yang berlagak dan merasa menjadi selebritis. Mungkin karena memang ada kemiripan antara keduanya.

Apa ada pertanyaan mengenai definisi terakhir???

Mau tak mau, percaya tak percaya, memang begitu adanya (lho kok???).

Kaos para kere memang compang-camping, penuh lubang. Sekilas mirip kaos merk Billabong atau Volcom. Celana jeans pun sama. Sobek di bagian dengkul, seperti jeans Eagle yang kala itu sedang “musim”. Tapi jangan keliru, kalau lubang dan kain tambalan produk Volcom atau Billabong memang sudah konsep dari pabrik. How about kerebritis?
Semua itu didapat dari pengalaman. Lubangnya mungkin dari percikan puntung rokok, sobekannya mungkin karena tersangkut kawat ketika melompati pagar. Warna pudar alias mbladus didapat karena itu baju satu-satunya yang dimiliki dan dipakai terus-menerus.

Kaum kere pun sebagian besar memakai anting (liat aja di Tegal Arum. pasti yang ngamen banyak yang pake anting kan?). Seperti salah satu vokalis grup band yang sedang tenar sekarang. Pokoknya gayanya ndeso tenan!!!

Maka dari itu, sepertinya perlu adanya pendefinisian yang tepat mengenai kaum kere. Jangan sampai ada orang yang mampu lantas “mengaku” kere. Namun sepertinya hal tersebut kembali lagi kepada diri kita sendiri. Sepertinya hal tersebut berhubungan dengan teori kebutuhan Maslow. Yaitu:

Manusia adalah makhluk yang membutuhkan

Hal tersebut tidak dapat dipungkiri kebenarannya. Semua manusia pasti membutuhkan. Tergantung bagaimana manusia tersebut mengontrol pemenuhan keinginannya akan kebutuhan tersebut, apakah membuat harga dirinya makin jatuh atau malah menjadikan dirinya terhormat karena usaha dari dirinya sendiri tanpa perlu meminta-minta?

8 Comments

  1. waduh artikelnya abie nasir bgt yah maklum lah anaknya he..he.. tp keren kok penuh inspirasi war

    eh kunjungin bslik dunk blog gw war in inank88.site40.net key gw tgu yah

  2. ye…kometar pertama heheee….wah blognya gelap heheee terus berkarya

  3. mw nanya donk!! klo lo termasuk kerebritis ga? hehe

  4. Wah sorry nih gw gak baca artikel loe semuanya, pusiing euy….

  5. Beli buku Kerebritis dimana ya mbak? Bagi infonya dong? Aku nyari di Gramedia Depok kok g ada ya? Makasih bwt infonya🙂

  6. itu buku sy nyari d gramedia mall puri indah.

    • abank224
    • Posted Desember 4, 2008 at 6:50 pm
    • Permalink

    wah mudah@an ga termasuk….!

    • allyas1805
    • Posted Desember 6, 2008 at 9:04 am
    • Permalink

    mungkin si kerebritis punya motto
    “biar kere yang penting gaya. hidup kere!!!”
    hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: