Skip navigation

Saya terkadang merasa kesal dengan berbagai larangan dari orang tua saya tentang pergaulan. Tidak boleh ini lah, itu lah, harus pergi sama si ini lah, sama si itu lah, dan sebagainya! Itu yang membuat saya merasa bahwa orang tua saya menganggap saya masih seperti yang dulu, masih SMA. Padahal saya sudah semester tiga. Keinginan untuk pergi kemanapun saya suka pastinya sudah menari-nari dalam pikiran saya. Tentang kumpul bareng ketika jalan-jalan ke mall, sampai pergi berdua saja dengan pacar saya (suit suit… hehe…). Tapiiiii… selalu saja ada “penolakan halus” yang keluar dari lisan kedua orang tua saya ketika saya meminta izin jalan-jalan. Siapa sih yang nggak kesel?!

Alhasil, jadilah saya anak rumahan yang tidak pernah sepi dirumah karena 13 ekor “makhluk imut berbulu panjang” dalam rumah yang berlarian kesana kemari di pagi hari. That’s make me better than before.

Selain itu, akhir-akhir ini banyak didengar kasus remaja putri yang menikah di usia muda karena hamil diluar nikah. Bahkan tetangga saya sendiri, yang dulu satu mobil jemputan ketika kami masih SD, bulan Oktober kemarin baru dikatahui tengah hamil tiga bulan. Apa yang saya rasakan ketika mendengar berita itu tak dapat saya gambarkan. Antara kaget, takut, ngeri, dan berbagai macam perasaan negatif langsung menyergap. Lutut serasa lemas. Saya tak habis pikir, tetangga saya yang dulu begitu alim dan sopan, ternyata baru diketahui tengah hamil tiga bulan! Apa masalhnya sehingga terjadi peristiwa seperti itu?

Terkadang hal tersebut tidak diketahui siapa yang patut disalahkan. Kadang sebagian orang bilang itu salah si laki-laki, kadang bilang salah si perempuan. Ada lagi yang bilang itu salah orang tuanya. Jadi siapa sebenarnya yang salah?

Banyak remaja putri yang merasa bangga dapat tidur satu kasur dengan laki-laki yang jadi “target”nya. Begitu pula dengan laki-laki yang merasa bangga telah merenggut keperawanan gadis “incaran”nya. Apa hal yang telah terjadi? Apakah mereka telah kehilangan urat malunya?

Sebuah survey yang telah dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis
dan Humaniora (LSCK PUSBIH)
mengenai tingkat keperawanan mahasiswi di Yogyakarta memberi hasil yang sangat mencemaskan! Hasil survey menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah!!! Survey tersebut melibatkan 16 perguruan tinggi di Yogyakarta dan didapat 1.660 responden. Untuk lebih jelasnya saya tuliskan sedikit ringkasannya sebagai berikut:

Hampir semua responden pernah melakukan kegiatan seks, baik itu
yang sifatnya self service maupun berpartner.
Kegiatan aborsi berbahaya dan berisiko tinggi yang dilakukan
hampir oleh seluruh mereka yang mendapat kehamilan di luar
nikah. Salah satu contoh dengan menelan obat flu dan ragi dalam
jumlah besar.
Tidak ditemukan tindakan pemaksaan dalam kegiatan seks tadi,
atau semuanya dilakukan atas dasar suka sama suka.
Rata-rata sudah pernah melakukan tindakan seks hingga tingkat
petting, oral seks dan anal seks.
25% dari total responden (415) bahkan sudah melakukannya dengan
lebih dari satu partner.

Hanya ditemukan 3 orang saja responden yang mengaku sama sekali
belum pernah melakukan kegiatan seks, termasuk juga kegiatan
seks self service (masturbasi). Jadi hanya terdapat angka 0,18%
responden yang sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks
tadi. Ke-3 responden tadi juga mengaku sama sekali belum pernah
mengakses tontonan maupun bacaan erotis.
Hanya ditemukan 46 orang yang belum pernah melakukan kegiatan
seks berpartner di bawah level petting sex. Jadi sekitar 2,77%
saja. Total dengan responden sebelumnya, jumlah responden yang
belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner : 2,77% + 0,18%
= 2,95% saja. Jadi 97,05% mahasiswi di Yogyakarta pernah
melakukan kegiatan sexintercourse pranikah atau 97,05% mahasiswi
di Yogyakarta sudah kehilangan kegadisannya dalam proses studinya.
100% dari 97,05% data responden itu mengakui kehilangan
keperawanannya (virginitas) dalam periodisasi waktu kuliahnya.
73% menggunakan metode coitus interupt sedangkan selebihnya
menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas.
63% responden melakukan kegiatan seks di kos-kosan partner seks
prianya. 14% responden mengaku melakukan kegiatan seks di
kos-kosan atau kontrakan yang disewanya. 21% mengaku melakukan
kegiatan seks di hotel kelas melati. 2% responden melakukan
kegiatan seks di tempat-tempat wisata yang terbuka.
Dari 1660 responden, 23 orang diantaranya mengaku telah
melakukan kegiatan kumpul kebo atau tinggal serumah tanpa ikatan
pernikahan selama lebih dari 2 tahun (1,386%). 5 orang (0,3%)
diantaranya mengaku mendapatkan izin dari orangtua si responden.
2 orang diantaranya (0,12%) bahkan tinggal seatap dengan
orangtua dari salah satu pihak, dan kegiatan seksnya diketahui
oleh orangtua tanpa treatment pernikahan.
1.417 responden (85,36%) mengakui tidak punya aktivitas lain
selain kuliah.
98 responden (5,90%) mengaku pernah melakukan aborsi.
23 responden (1,38%) dari 98 responden itu mengaku pernah
melakukan aborsi lebih dari satu kali.
12 responden (0,72%) dari 98 responden itu mengaku pernah
melakukan aborsi lebih dari dua kali.

Dan kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut:

  1. Paradigma budaya kita sudah bergeser jauh.
  2. Rambu-rambu agama sudah ditinggalkan.
  3. Bangsa kita sedang mengalami proses erosi moral yang luar biasa
    menakutkan. Dengan kualitas generasi muda ang bobrok seperti
    ini, dapat dibayangkan betapa mengerikannya masa depan kita 20
    tahun ke depan.

Dan saran dari LSCK PUSBIH adalah sebagai berikut:

  1. Harus sesegera mungkin dibuat Perda tentang pengelolaan
    pemukiman komersial
  2. Standar paradigmatik usia menikah harus mulai diturunkan untuk
    mengantisipasi kegiatan seks di luar nikah.
  3. Peraturan yang melarang seorang pelajar menikah harus direvisi.
  4. Peraturan, persyaratan dan biaya pernikahan yang ditetapkan oleh
    pemerintah harus diturunkan.
  5. Departemen Agama harus mengkaji untuk menginstitusikan lembaga
    nikah siri.

Apakah dengan begitu dapat menurunkan persentase yang telah didapat? Rasanya belum. Masih ada yang kurang dalam saran dari LSCK PUSBIH tersebut. Yaitu kesadaran dari masing-masing insan yang tengah dimabuk cinta, dan peran orang tua dalam mengawasi pergaulan dan pendidikan sang anak. Kuno? Memang. Tapi tidak dapat dipungkiri peran keluarga dalam membangun kepribadian sang anak sangat berpengaruh besar bagi perkembangannya kelak.

Yakinlah, kawan, bahwa larangan yang datang dari orang tua kita bukanlah suatu ancaman. Melainkan rasa sayang yang mereka tunjukkan demi keselamatan kita dan keluarga. Mereka tidak menganggap kita masih anak-anak, melainkan harta yang harus dijaga. Positif thinking aja lah!

So, jangan marah lagi ya jika orang tua kalian terlalu cerewet, tidak membolehkan kalian pergi terlalu jauh dari rumah. Itu adalah wujud perlindungan mereka terhadap kita, buah hati mereka yang akan ditanyai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Survey tadi baru dilaksanakan di Yogyakarta lho. Bagaimana dengan Jakarta ya?

9 Comments

  1. bgus tu artikel lw wari
    gw jg prihatin bgt ma keadaan jaman skr ni,
    udh rsak bgt.
    tapi untung jga kita “tersesat di jalan yang bener” y,
    kl ga’,mungkin bsa jadi sprti mereka.
    (jangan smpe dh!)hehe….

  2. Ngerriiiii….

    nau’zubillahiminzalik….

  3. jogja deh. untung dulu jg sempet tersesat di jalan yang benar. hehehe

  4. Anak perempuan saya berumur 15 tahun. terus terang saya takut dengan pegaulan anak sekarang. Saya tahu kalau ortu melarang pasti si anak akan melawan. Saya sendiri dulu kalo dilarang malah melakukan. Jadi saya memakai sistem pendekatan pertemanan. Saya harus tahu bahasa gaul, saya harus juga membaca Gadis agar nyambung dengannya. harus ngerti jonas brother, nonton click five bareng, Ngajak diskusi ringan tentang kehidupan. Ngajarin dia bagaimana membuat cowok klepek klepek. bantu pilihin baju yang keren. untunglah dia cukup terbuka dengan saya. Tapi sejauh ini saya masih saja kuatir…

  5. to: Pak Datyo
    asalkan anak mau terbuka dengan orang tuanya, itu juga sudah lumayan kok pak. kan jaman sekarang banyak anak yang kurang deket sama orang tuanya, nganggap orang tua tu ya orang tua. nggak bisa di ajak curhat. juga perlu diingatkan kepada anak2 untuk selalu menjaga diri dari hal2 yang tidak baik, selalu ingat bahwa tuhan itu maha melihat.
    saya yakin anak bapak pasti sudah mengenali mana yang baik dan mana yang buruk kan?

    tentang masalah ini, mengke bade kulo posting nde’ postingan selanjutnya. tapi pastine bedho tulisane karo sing iki.
    hehehe…

    • dewi
    • Posted Desember 12, 2008 at 5:26 pm
    • Permalink

    uuhm,,
    jujur saya adalah salah satu korban seks pra nikah. umur saya baru 16tahun.tapi saya sudah sering melakukan hubungan seks dan saya melakukannya hanya dengan 1 orang saja,yaitu pacar saya.
    saya tinggal di salatiga dan bersekolah di salah satu SMA Negri favorit di salatiga. di salatiga seks bebas bukan lagi hal yang tabu. sudah banyak anak SMA bahkan SMP yang tidak virgin.
    tapi sebenarnya melakukan hub seks pranikah menimbulkan rasa sangat menyesal.
    hanya awalnya saja yang enak,tapi setelah itu hanya penyesalan yang didapatkan.
    saya ingin berhenti dari kegiatan seks tersebut.
    saya sangat ingin menjauhi perbuatan itu.
    sering saya mencoba,tapi selalu gagal.
    karena seks sudah menjadi kebutuhan saya.

    untuk itu,bagi yang belum mempunyai surat nikah jangan coba coba ntk merasakan apa yang namanya seks.
    karena itu akan sangat merugikan.
    untuk sema cewek yang belum nikah,keep virgin gurlz…

  6. keknya masalahnya bukan karena menikah itu administrasinya susah atau mahal, deh. kebanyakan mereka yg “berbuat” demikian memang ga mau segera menikah. jadi solusinya mungkin dgn memperketat peraturan, pemberatan sangsi bagi yg “berbuat”, dan memperbaiki moral dan religius masyarakat.

    v(^_^)

  7. ini fenomena, karena itu agama (islam) sudah memberi khtiar kepada perempuan untuk berjilbab. ilbab mungkin hanya imbolik tapi harus dimaknai oleh kita bahwa jilbab yang dimaksudkan dalam agama itu adalah jilbab yang diawali dari hati untuk menjustifikasi implementasi jilbab fisik itu.

  8. aku pgen beljara blogging,,,lok tukeran link maw za….hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: